Posts

Kisah Sayyidina Ali Memuliakan Para Tamu

Image
Dikisahkan, bekerjsama di antara kebiasaan Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib di Madinah ialah membuka lebar pintu rumahnya layaknya dapur umum. Seperti dapur umum, waktu pagi, siang, dan malam hari rumah itu menghidangkan kuliner untuk semua orang yang berdatangan. Pada zaman itu, di Madinah belum ada kawasan penginapan atau hotel. Tiap hari, Sayyidina Hasan bin Ali menyembelih unta kecil untuk dihidangkan kepada para peziarah Madinah atau orang-orang miskin pada umumnya. Suatu hari, ada orang Arab Badui (dusun) yang tiba dan makan dirumahnya. Sehabis makan, ia tidak pribadi pulang, melainkan duduk dan membungkus beberapa kuliner ke dalam tas. Melihat abnormalitas itu, Sayyidina Hasan bin Ali tiba menyapa: “Kenapa engkau mesti membungkusnya? Lebih baik engkau tiba dan makan di sini pada setiap pagi, siang dan malam hari. Biar makananmu lebih segar,” kata Sayyidina Hasan “Oh, ini bukan untukku pribadi. Tapi untuk orang bau tanah yang kutemui di pinggir kota tadi. O...

Liciknya Budi Bulus Setan

Image
Sebagaimana yang kita sadari bahwa apa yang tiba ke pikiran atau hati kita lepas dari kemampuan kita untuk memilihnya apakah dorongan baik atau buruk. Kalau ada dorongan baik itu tiba dari setan sebagai budi kancil atau dari malaikat Mulhim atau dari Allah Ta'ala langsung. Setelah kita tahu bahwa getaran ( خطر ) itu baik dan tiba dari Allah Ta’ala dan malaikat Mulhim, maka segeralah dilaksanakan. Namun, waspadalah! alasannya ialah setan mempunyai 7 cara untuk menggodamu. Pertama, setan menghalang-halangimu untuk mengerjakan dorongan baik itu. Jika kita dijaga oleh Allah, maka kita akan menolak setan itu dengan perkataan batinmu ; “Aku sangat membutuhkan sekali amal baik itu. Karena saya harus mencari bekal dari dunia yang fana ini untuk akhiratku yang abadi.” Kedua, jikalau kita tetap besar lengan berkuasa teguh untuk mengerjakan amal baik itu, maka setan membujuk kita untuk taswif (menunda-nunda). Jika kita dijaga oleh Allah Ta’ala, maka kita akan menolaknya dengan ka...

Biografi Kh.R. Abdul Qadir Munawwir

Image
“Saya mengaji Fatihah dengan Mbah Arwani satu ahad selesai, tetapi dengan Mbah Qodir satu bulan, masyaallah. Kadang hati setengah jengkel (ngaji nggak tambah-tambah), tetapi anehnya setiap dia keluar dari pintu tengah, siap mengajar bawah umur niscaya yang saya tatap yaitu wajah yang ceria, senyum yang khas.. plengeeh.. seakan hati saya disihir, lenyap rasa galau saya. Saya jadi semangat untuk mengaji.” (KH. Munawir Abdul Fatah, Anggota MUI Provinsi DIY) Mengemban Amanah KH. R. Abdul Qodir Munawwir, atau Romo Kyai Qodir, dilahirkan pada Sabtu Legi 11 Dzulqo’dah 1338 H bertepatan dengan 24 Juli 1919 M. Beliau yaitu salah satu putra al-maghfur lah KH Muhammad Munawwir bin Abdullah Rosyad (muassis Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta) dari istri pertama, Ny. R. Ayu Mursyidah, yang berasal dari keluarga Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah KH. M. Munawwir wafat (1942 M), Romo Kyai Qodir meneruskan estafet tanggung jawab ayahandanya untuk mengasuh pesantren bers...

Kisah Nabi Khidir Dan Sajian Dari Surga

Image
Mas’ab bin Thabit bin Abdullah bin Zubair yaitu seorang yang rajin beribadah. Dia selalu berpuasa dan mengerjakan sholat tidak kurang dari seribu raka’at sehari semalam. Dia pernah berkata: “Ketika saya berada di dalam masjid sedangkan semua orang sudah pulang ke rumah masing-masing, tiba-tiba tiba seorang lelaki yang tidak saya kenal. Lelaki itu menyandarkan badannya di dinding masjid sambil berkata: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa saya berpuasa semenjak kemarin. Sampai kini pun saya masih berpuasa. Aku tidak mendapat kuliner dan minuman dan saya menginginkan al-Tharid (nama sebuah makanan). Berikanlah kepadaku ya Allah kuliner dari sisi Engkau”. Tiba-tiba saya melihat seorang pelayan tiba membawa hidangan. Pelayan itu nampaknya tidak menyerupai orang biasa. Orangnya tampan, higienis dan pakaiannya rapi. Dia berjalan ke arah lelaki yang berdoa tadi sambil meletakkan sajian itu di hadapannya. Lelaki itu pun membetulkan duduknya menghadap sajian itu. Sebelum merasakan kul...

Kisah Nabi Khidir Mengunjungi Baitul Haram

Image
Berkata Abu Naim dalam kitab Al-Hilyah: Bercerita kepada kami Ubaidullah bin Muhammad, dari Muhammad bin Yahya, dari Ahmad bin Manshur, dari Ahmad bin Jamil, katanya berkata Sufyan bin Uyainah: “Pada waktu saya tawaf di Baitullah, tiba-tiba saya melihat seorang yang sedang memimpin satu rombongan jama’ah mengerjakan tawaf. Saya bersama orang yang bangun di sekelilingku memperhatikan lelaki itu. Ada di antara mereka yang berkata: “Lelaki yang memimpin rombongan yang tawaf itu nampaknya seorang yang nrimo dan berilmu”. Kami perhatikan beliau bahkan kami ikuti ke mana beliau pergi. Lelaki itu pergi ke Maqam Ibrahim lalu mengerjakan sholat di situ. Selesai sholat beliau menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. Setelah itu beliau melihat ke arah kami dan berkata: “Tahukah kau apa kata Tuhanmu?”. Kami menjawab: “Tidak”. Dia berkata: “Tuhanmu berfirman: ‘Aku ialah raja’. Kamu mendakwa diri sebagai raja.”  Kemudian beliau memalingkan wajahnya ke arah kiblat, menengadahkan ked...

Kisah Orang Shalih Bertemu Nabi Ilyas Di Lembah Jordan

Image
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, dari Ibrahim bin Abdullah bin Al-Mughirah, dari Abdullah, berkata: Telah bercerita kepadaku ayahku bahwa pengurus sebuah masjid berkata kepada Walid bin Abdul Malik: “Sesungguhnya Nabi Khidir sholat setiap malam di masjid”. Dari Dawud bin Yahya, seorang lelaki yang selalu berada di Baitul Maqdis bercerita: “Pada waktu saya berjalan di salah satu lembah di Jordan (Yordania), saya melihat di lembah bukit itu ada orang yang sedang mengerjakan sholat. Aku melihat di atasnya ada awan yang menaunginya dari panasnya sinar matahari. Menurut perkiraanku lelaki itu ialah Nabi Ilyas. Saya dekati ia kemudian kuucapkan salam kepadanya. Dia berpaling kepadaku sambil menjawab salamku. Aku bertanya: “Siapakah tuan bahwasanya wahai orang yang dirahmati Allah?”. Dia membisu saja dan tidak menjawab pertanyaanku. Kutanya lagi menyerupai pertanyaan pertama, kemudian ia menjawab: “Aku ialah Nabi Ilyas”. Tiba-tiba saja bulu romaku merinding. Aku gemetar, dan yang palin...

Kisah Seorang Wali Allah Bertemu Nabi Ilyas

Image
Berkata Abul Hasan bin Al-Munadi: Bercerita kepada kami Ahmad bin Mulaib, dari Yahya bin Said, dari Abu Ja’far Al-Kufi, dari Abu Umar An-Nasibiy, dia berkata: “Aku pergi mencari Maslamah bin Masqalah di kota Syam. Maslamah bin Masqalah dikenal banyak orang termasuk wali Allah. Setelah berusaha mencarinya, saya menjumpainya di salah satu lembah di Jordan (Yordania). Beliau berkata kepadaku: “Maukah engkau kuceritakan perihal apa yang kulihat tadi di lembah bukit ini?”. Aku menjawab: “Tentu saya ingin mendengarnya”. Beliau berkata: “Ketika saya tiba tadi ke lembah ini, saya melihat seorang syekh yang sedang mengerjakan sholat di bawah pohon itu. Besar kemungkinan lelaki itu yaitu Nabi Ilyas. Aku berjalan mendekatinya kemudian saya mengucap salam kepadanya sekalipun dia sedang mengerjakan sholat. Aku melihat dia ruku’, kemudian I’tidal, dan kemudian sujud. Selesai sholat dia memandang ke arah suaraku, kemudian menjawab salamku sesudah dia melihat saya bangun di situ. Aku tanya dia: “...